Minggu, 01 Mei 2016

karena serba instan insting tak berguna lagi

coba lihat betapa kami suka dengan 
korupsi karena itu instan. Kekayaan instan tanpa perlu susah-susah 
bekerja sedikit demi sedikit, itu yang kami suka. Lihatlah 
bagaimana kami lebih suka memberi uang kepada mafia hukum 
jalanan ketika kami melanggar aturan lalu lintas. Karena kami ingin 
menyelesaikan masalah ini dengan instan, tanpa perlu repot-repot.
Lihatlah bagaimana kami belajar. Kami menjadi pintar hanya dengan 
semalam. Dan lusa, kami sudah lupa. Benar-benar instan pula lah 
kepandaian kami ini. Tidak heran juga bimbingan belajar dan les 
privat menjadi populer di dunia pendidikan. Meski mereka hanya 
mengajari kami bagaimana mengerjakan soal dan bukannnya 
mengajari kami ilmunya, tapi kami anggap itu jauh lebih penting dan 
lebih berguna.
Ketika rumah dan harta kami hancur karena musibah, maka yang 
kami lakukan hanyalah menunggu bantuan instan dari pemerintah. 
Dan berharap bantuan tersebut jika direbus dengan air mendidih 
akan segera menjadi rumah dan harta benda baru bagi kamu. Lihat kan? Betapa instan pemikiran kami.
Siapa bilang negeri ini bukan negeri instan? Bah, pendahulu kami 
mendamba negeri yang elok yang dibangun dengan keringat, bukan 
negeri yang direbus dengan air matang. Tapi kami adalah manusia 
instan. Mungkin gandum tidak tumbuh di negeri ini tetapi instan 
telah menjadi nama tengah kami

Tidak ada komentar:

Posting Komentar